Rabu, 02 Juni 2010

Kelirumologi Jaya Suprana

Serendipiti : Kekeliruan Positif

Kita sudah terbiasa menganggap kekeliruan selalu berdampak negatif, merugikan, bahkan mencelakakan. Namun sebenarnya, pada kenyataan hidup, kekeliruan tidak selalu negatif sebab ada juga kekeliruan yang berdampak positif, konstruktif, menguntungkan, bahkan bermanfaat bagi umat manusia.

Kekeliruan berdampak positif disebut sebagai serendipiti, sebuah istilah yang dipetik dari sebuah mitologi Persia kuno yang berkisah tentang tida pangeran Kerajaan Serendip (kini Srilanka) yang berperilaku serba keliru, namun malah berhasil membangun negara dan bangsanya menjadi makmur-sejahtera. Maka, sesua nama sang kerajaan tiga pangeran serba keliru itu, perilaku keliru yang berdampak positif dan konstruktif, disebut Serendipiti.

Suasana serendipiti banyak mewarnai kisah penemuan berbagai jenis makanan dan minuman. Seperti misalnya, minuma teh yang ditemukan akibat air yang direbus dalam panci lupa ditutup, hingga rontokan daun teh masuk ke dalamya. Roti dalam bentuk menggembung seperti sekarang ini tidak dikenal sampai sekitar abad ke 27 SM. Semula bentuk roti datar-datar saja seperti martabak, sampai pada suatu hari seorang budak di Mesir yang bertugas membuat roti, seperti biasa membuat adonan tepung dan air lalu meletakannya di dalam oven.


Mungkin akibat terlalu letih dan udara terlalu panas, sang budak jatuh tertidur. Setelah bangun tidur, sang budak kaget, teringat bagwa lupa menyalakan api oven hingga adonan menggembung hampir dua kali lipat. Akibat udara panas di dam oven, adonan meragi. Sang budak bingung, cepat-cepat memasang api panggangan dengan harapan ukuran roti susut kembali.

Ternyanya adonan roti makin menggelembung dan terlanjur matang dengan warna kulit kecoklatan mulus mengkilat. Karena waktu makan sudah tiba, sang budak tidak punya pikiran lain kecuali segera menyajikan roti bengkak itu pada tuannya. Ternyata sang majikan dan segenap keluarga nikmat melahapnya. Sang budak dipuji atas karya inovatif itu, dan dipaksa untuk setiap hari membuat roti "rusak" itu. Sampai hari ini hasil karya keliru budak Mesir itu masih asyik dilestarikan di seluruh dunia.

Mentega juga ditemukan lewat proses serendipiti, juga di kawasan Timur Tengah. Unta merupakan saran transport utama untuk menempuh perjalanan di gurun pasir. Biasanya, bekal minuman air susu dibawa di dalam kantung kulit yang dipikulkan ke atas punggung unta. Akibat guncangan gontaian gerak langkah unta dan panasnya sinar matahari di gurun, susu di dalam kantung kulit itu terkocok-kocok dan terpanasi hingga terjadi proses pengasaman menjadi substansi kental masam. Maka lahirlah mentega.

Ilmu farmasi kaya hasil karya akibat serendipiti. Saccarin ditemukan di laboratorium Universitas John Hopkins oleh Fahlberg (1879) akibat keliru; lupa cuci tangan langsung makan roti hingga ramuan untuk produk sampingan tar batu arang ikut terlahap. Merasakan rasa manis padahal roti tidak bergula. Fahlberg meneliti asal-usul ramuan di tangan kotornya itu. Lalu temuan serendipitis itu di beri nama "saccarin". Istilah sanskrit untuk gula.

Alexander Flemming melakukan penelitian bakteri staphylococus di laboratorium rumah sakit St. Mary, London. Akibat teledor sekelompok kultur bakteri tececer dan terlupakan. Beberapa saat kemudian, Flemming menemukan kembali budaya bakteri tercecer itu, namun celaka ternyata sudah menjamur.

Jengkel atas kekeliruannya, Flemming ingin membuang budaya yang dianggap sudah mubazir itu. Namur, warna kehijauan warna kehijauan kultur kadaluarsa itu menarik perhatian Flemming hingga iseng-iseng diteliti lebih jauh. Ternyata hasil penelitian Flemming melahirkan salah satu obat terpenting dalam sejarah peradaban dan kebudayaan umat manusia yaitu penicillin.
 

Copyright © 2009 by kerupuk ikan, kerupuk, camilan, snack, keripik, oleh-oleh